SSEAYP Journey: Brother in Everything

Alif Isach Jefri (2)

Dua orang makhluk ini adalah orang yang paling saya benci di awal-awal PDT (Pre-Departure Training) 42nd SSEAYP, yang satu penyakitan, dan yang satunya lagi suka marah-marah gak jelas ke saya. Namun siapa sangka, dua orang yang paling saya benci ini menjadi dua orang yang paling dekat dengan saya selama program. Mereka adalah Alif dan Isach, my Brother in Everything.

Alif Reza Pahlevi

DSC_0549

Perwakilan Jawa Timur asli Bangkalan Madura ini merupakan Tour Leadernya Garuda42 (nama angkatan saya, Kontingen Indonesia untuk 42nd SSEAYP). Alif merupakan orang yang paling repot ketika kami tiba di Bandara Soekarno Hatta dan bertemu untuk pertama kalinya. Sebagai Tour Leader dia memiliki tanggungjawab untuk memastikan transportasi kami menuju SESKOAL (tempat PDT) aman terkendali. Dia yang paling semangat mengangkat dan mengatur koper-koper kami yang gedenya kaya kulkas satu pintu, menyusun semua barang-barang bawaan di bus dengan rapi sehingga bus tersebut cukup dan nyaman untuk kami naiki. Namun siapa sangka keesokan harinya setelah hari yang melelahkan itu Alif tumbang, tidur kaya orang penyakitan. Saya yang notabene merupakan PIC Health and Welfare Garuda42, harus berpura-pura peduli dengan Alif, menanyakan kondisinya saat itu, kondisinya sebelum berangkat PDT, dan riwayat penyakit yang dia derita. Secara professional, itu bukanlah wewenang saya sebagai seorang Apoteker, namun karena kondisi kontingen yang hanya memiliki saya sebagai satu-satunya anak kesehatan disana, jadilah saya bertanya-tanya ke Alif mengenai sakitnya dan mencoba menentukan terapinya (ceileh bahasa saya, kaya anak pinter ya hahaha). Lalu karena hari pertama, saya kira Alif demam biasa, namun ternyata hari demi hari Alif tak kunjung sembuh, dan saya pun mulai panik. Saya mencoba mengerahkan semua ilmu yang saya punya, namun nihil karena sepertinya otak saya kebentur sama kulkas satu pintu waktu di bandara hahaha. Dan akhirnya saya mencoba bertanya ke seorang alumni yang merupakan seorang dokter umum, sebut saja namanya kak Ocha, dan kakak tersebut bilang kalau Alif ini gejala typhus. Jadilah saya memberikan antibiotik dan melanjutkan terapi untuk meredakan gejala demamnya. Beberapa hari kemudian Alif sehat, namun tidak lama setelah itu dia kembali sakit, hingga akhirnya saya cukup muak untuk menghadapi Alif yang terus sakit-sakitan. Saya beberapa kali harus skip materi dan latihan kesenian untuk mengurusi Alif dan beberapa teman-teman IPY  yang sakit saat itu, namun Alif adalah salah satu IPY yang menyita waktu saya dengan penyakitnya. Hingga akhirnya Alif betul-betul sembuh dan dapat berangkat bersama kami ke Jepang. Cukup sampai disitu? TIDAK. Di awal program pun Alif masih sakit-sakitan, karena memang daya tahan tubuh anak ini kurang baik dibandingkan dengan teman-teman yang lain, apalagi pada saat PDT waktu tidur kami hanya 3 jam perhari dan ketika di Jepang pun cuacanya cukup ekstrim untuk kita yang tinggal di negara tropis ini. Saya muak dengan Alif? Iya, karena bagi saya kesehatan kontingen Garuda42 adalah yang utama, dan itu merupakan tolak ukur keberhasilan saya sebagai seorang PiC Health and Welfare. Jadi karena Alif terus sakit-sakitan, itu menendakan kalau kerjaan saya belum berhasil huft. Tetapi rasa muak saya ke Alif itu hilang ketika saya yang mengalami sakit di atas kapal. Alif adalah orang yang pertama kali datang ke kabin saya dan membawakan saya makan malam saat itu, menemani saya di kabin dan memastikan kalau saya sudah baikan. Dari Alif saya mendapatkan pelajaran bahwa kebaikan akan dibalas dengan kebaikan. Mungkin selama ini saya tidak sadar bahwa saya bukan hanya semata-mata melaksanakan tugas saya sebagai PiC Health and Welfare pada saat mengurus dia, namun juga ada nilai kebaikan disana.

Isach Samuel Kbarek

DSC_1613

Perwakilan Papua yang merasa dirinya adalah perwakilan Papua ter-smart selama ini. Alumni IPDN yang juga merupakan Protokoler di kontingen kami. Di awal PDT saya tidak dekat sama Isach, karena saya tidak suka dengan karakternya yang tegas namun gak jelas. Sering marah-marah sendiri, egois, dan selalu menyalahkan orang lain. Setau saya selama ini, orang Papua itu asik-asik, ramah, bersahabat, namun hal itu tidak saya temukan dalam diri Isach di awal-awal PDT. Dia juga sering marah ke saya karena susah dibangunin, dan sering menghina saya sebagai anak yang berasal dari kepulauan (becandaan). Pada awalnya saya selalu mengiyakan kemarahan Isach, menganggap angin lalu setiap hinaannya ke saya, namun ternyata anak ini tidak bisa didiamkan, harus dilawan. Di minggu-minggu terakhir PDT saya selalu menjadi lawan Isach, siap mematahkan kata-katanya, siap mengembalikan hinaannya, dan siap untuk menjadi orang pertama yang tidak sepakat dengan pendapatnya hahaha. Dari Isach saya belajar bahwa kejahatan harus dibalas dengan kejahatan hahaha. Namun siapa sangka, saling hina tersebut yang membuat kami menjadi dekat, membuat saya lebih mengenal sisi lain dari Isach selain keegoisannya. Isach pun ternyata merasakan hal yang sama, dalam surat perpisahannya ke saya dia bilang:

“Jefry, waktu PDT saya pilih untuk tidak pilih-pilih teman dan juga fokus untuk ikut program dengan cara idealis. Di PDT, kita dua tidak terlalu banyak ngobrol. Aku ingat pertama kali ngomong sama kamu itu, aku bilang kalau aku bangga sama kamu, karena pendiam, dewasa, dan mudah diatur. Tapi jujur setelah tahu kalau kamu orangnya gila, asik, dan berantakan, aku jadi berasa punya teman yang sepikiran dengan aku, dan aku merasa punya sahabat yang baru. Candaan kita yang saling hina satu sama lain, itu yang akan paling sangat berkesan dan tak terlupakan untuk saya. Jefri, biar kita jauh aku di Papua dan kamu di Bangka, tetap ingat aku ya! Meski aku gak tau kapan bakal ketemu dengan kamu dan geng komunis berdelapan, aku akan tetap keep in touch by phone, wa, fb, ataupun teleponan. Tetap individualis, dan kalau punya kesempatan dan umur panjang nanti ketemuan ya. Aku pengen denger cerita sukses kamu yang lainnya.” – Isach –

Alif dan Isach merupakan saudara terbaik saya selama program. Mereka selalu ada ketika saya membutuhkan bantuannya. Mereka selalu bersedia untuk saya ajak melakukan kejahatan-kejahatan di atas kapal. Mereka adalah orang-orang pertama yang saya cari ketika di kabin saya sepi tidak ada orang, dan mereka siap menampung saya di kabinnya untuk hanya sekedar bercerita hal-hal yang gak penting. Saya tidak tau tanpa mereka berdua, ke kabin siapa saya akan pergi kalau di kabin saya lagi sepi. Terimakasih sudah bersedia untuk menampung saya yang baik dan pintar ini hahaha.

Selain itu kami bertiga juga sering noodle party bareng temen-temen IPY perempuan lainnya, biasanya sih kita sering kumpul berdelapan. Pernah noodle party di Lido Terrace, Di teras Dolphin Longue, Vista Spot, hingga akhirnya kami menemukan tempat yang strategis yaitu di ruang santai di depan Grand Bath. Beraneka ragam jenis mie telah kami makan, dari mulai mie Filipin, fu Vietnam, Mie Sedap yang beredar di Malaysia, sampai Indomie yang beredar di Kamboja pun telah kami coba. Selain agenda noodle party, kami juga ada sesi ghibah dan curhat hahaha. Pokoknya noodle party kami selalu dipenuhi dengan kekonyolan. Cerita lengkap tentang noodle party dan para pesertanya akan saya ceritakan di edisi khusus lainnya ya.

Kembali ke Alif dan Isach, kita bertiga seumuran, sama-sama lahir di tahun 1992, yang membedakannya hanya bulan. Saya lebih tua dua bulan dari Isach dan empat bulan dari Alif. Namun mereka berdua ngotot untuk manggil saya abang, padahal saya sudah berkali-kali bilang ke mereka untuk memanggil saya cukup dengan nama saya saja. Tapi mereka tetap ngotot untuk memanggil saya abang, apakah saya terlihat lebih tua dari mereka? Iya, lebih dewasa dari mereka? Jelas, lebih pintar dari mereka? Pasti hahaha. Mereka bilang karena mereka anak baik-baik yang sopan dan menghargai orang yang lebih tua, oke baiklah, akhirnya saya mengalah untuk tetap dipanggil abang, walau sekali lagi saya tegaskan kalau kami seumuran hahaha.

Mereka berdua juga mengajarkan saya banyak hal, Alif dengan kepintaran dan bahasa Inggrisnya yang bagus, namun tetap sederhana dan tidak sombong. Andaikan Alif mau mengerahkan semua potensinya, dia pasti bisa mendominasi di kontingen Garuda42, namun dia tidak mau, karena baginya setiap orang sudah ada porsinya, begitupun dengan Isach. Isach yang tegas dan cerdas juga secara tidak langsung telah mengajarkan saya untuk mengatakan putih adalah putih, dan hitam adalah hitam, tidak peduli orang mau bilang apa di belakang.

Sampai kapanpun saya akan selalu ingat dua orang ini, dua orang saudara terbaik saya sepanjang program. Akan selalu ingat dengan muka Alif kalau lagi sakit, Isach yang lagi marah dan sibuk ngatain orang, kamarnya Alif yang berantakan, noodle party bareng temen-temen sekamar Isach yang hancur-hancur, momen kabur dengan Alif ke Tokyo Tower, keliling kapal sampe masuk ruang kapten bareng Isach di malam terakhir program, curhatan-curhatan Alif tentang keluarganya di kampung dan gebetan-gebetannya di atas kapal, cerita-cerita Isach tentang kehidupan jahiliyahnya, dan masih banyak hal lain yang telah kami lewati bersama di atas kapal Ms. Nippon Maru. Saya akan selalu mengingat itu, mengingat persaudaraan yang telah kami bangun di atas kebencian pada awalnya.

Alif Isach Jefri (1)

Terimakasih untuk setiap momen yang telah kalian ciptakan bersama saya, salah satu hal yang membuat saya dapat menikmati SSEAYP adalah karena adanya kalian, saudara yang saling membantu, mengingatkan, menguatkan, menghibur satu sama lain. Semoga suatu hari nanti kita bisa bertemu lagi, walau saya sadar bahwa Pangkalpinang – Bangkalan – Jayapura itu jauh dan tidak mungkin dapat dicapai dengan tiket Garuda gratisan, tetapi  saya yakin bahwa selalu ada jalan untuk persaudaraan.

Salam Rindu dari Bangka yang bukan masuk wilayah Afirmasi LPDP hahaha

Jefri (Abang Kalian)

REVIEW 2015 & RESOLUSI 2016

Pangkalpinang, 11 Januari 2016

Alhamdulillah hari ini kita telah memasuki hari ke-11 di tahun 2016. Dan tidak ada salahnya kalau sebelum kita lebih jauh melangkah di tahun 2016 ini, kita mereview kembali apa yang telah dilakukan sepanjang tahun 2015 yang lalu, dan juga membuat resolusi untuk tahun 2016 ini. Belum terlambat kan? Hehehe anggap saja belum ya (dasar tukang telat).

REVIEW 2015

2015 bagi saya merupakan tahun yang penuh anugerah, tahun dimana saya belajar banyak hal, belajar menemukan diri saya yang apa adanya, belajar menggapai hal-hal yang seharusnya itu di luar dari kemampuan saya, dan terpenting adalah belajar tentang penerimaan. Di awal tahun 2015 kemarin, saya membuat resolusi untuk kehidupan saya di sepanjang tahun 2015, dengan satu kata yang bisa mewakilinya yaitu BERSINAR. Lantas apakah saya betul-betul BERSINAR di tahun 2015? Mari saya jabarkan satu persatu apa yang telah terjadi di kehidupan saya di tahun 2015 yang lalu.

DSC_1235

PENDIDIKAN

Alhamdulillah akhirnya tahun ini gelar mahasiswa resmi saya tanggalkan. Setelah berjuang secara tidak wajar menyelesaikan studi ini hahaha, akhirnya saya resmi tercatat sebagai Apoteker di Indonesia pada tanggal 22 September 2015, setelah mengucapkan lafal sumpah, menandatangani Surat Sumpah, dan mendapatkan Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA) serta Sertifikat Kompetensi. Namun sebelum tanggal 22 September itu terjadi, banyak sekali pahit manisnya kehidupan PKPA (Praktek Kerja Profesi Apoteker) a.k.a Internship dan juga persiapan ujian komprehensif dan UKAI yang patut untuk dikenang.

PKPA adalah salah satu syarat untuk dapat menyelesaikan studi saya sebagai mahasiswa program profesi Apoteker. Di kampus saya, Universitas Andalas, saya harus melalui tiga tahap PKPA untuk bisa mengikuti ujian komprehensif, yaitu PKPA di Rumah Sakit, Industri Farmasi, dan Apotek. PKPA Rumah Sakit saya ikuti di Rumah Sakit Stroke Nasional (RSSN) Bukittinggi selama 12 minggu (3 bulan). Karena saya tidak terlalu tertarik farmasi klinis, maka dari itu saya memilih untuk PKPA di RSSN ini. PKPA di RSSN terkenal dengan santainya, karena kita punya banyak waktu untuk istirahat disini. PKPA dilaksanakan dari hari senin-jumat pukul 08.00 – 16.00 WIB. Namun di siang hari kita bisa izin untuk makan siang dan (tidur siang) jika tidak ketahuan. Di hari-hari pertama PKPA sih saya berusaha untuk menjadi anak baik-baik, masuk tepat waktu, izin makan siang sesuai dengan waktu yang ditentukan, pulang juga tepat waktu, dan berpraktek dengan sungguh-sungguh. Kebetulan tempat praktek pertama saya adalah Instalasi Farmasi (Apotek Rawat Inap, Apotek Rawat Jalan, Gudang Farmasi, Produksi, dan Sterilisasi). Disini saya bertemu dengan Bapak Ibu Apoteker dan Asisten Apoteker dengan berbagai karakter, namun mereka semua baik-baik, mungkin karena waktu itu reputasi saya masih sebagai anak baik-baik hahaha. Praktek di Instalasi pun saya jalani selama 3 minggu, dan kemudian saya pindah ke tempat praktek kedua di Bangsal Anak, ketiga di Bangsal Interne, dan terakhir di Bangsal Neuro. Di setiap bangsal saya mendapatkan pengalaman yang berbeda-beda, dan juga menemui pasien, dokter, dan perawat dengan karakter yang berbeda-beda pula. Seperti misalnya di Bangsal Anak, saya bertemu dengan dr. Yelli, SpA yang duuuuuh tegasnya minta ampun. Saya harus belajar kotar-katir karena takut ditanyain di depan pasien, kan malu kalau gak tau jawabannya. Selain itu saya juga harus bangun lebih pagi karena bu Yelli gak tau kapan jadwal visitenya yang pasti, bisa jadi jam 7 pagi ataupun jam 11 siang, jadi walhasil saya betul-betul berusaha untuk jadi anak baik-baik selama PKPA di RSSN ini, yah walaupun di minggu-minggu terakhir saya sering istirahat siang kebangetan (izin jam 11 balik ke RS jam 2 hehehe, kadang baru balik lagi jam 3 buahaha), tapi saya betul-betul menikmati setiap detik PKPA di RSSN ini. Saya menikmati pembelajarannya, kebersamaan dengan teman-teman PKPA yang unik-unik, interaksi dengan Bapak Ibu Apoteker, Asisten Apoteker, Dokter, Perawat, dan Pasien yang ada di RSSN ini, serta menikmati Kota Bukittinggi yang dinginnya kebangetan. Hal yang paling membuat saya lega ketika saya selesai PKPA di RSSN ini adalah kenangan yang saya tinggalkan. Alhamdulillah sampai detik ini ketika saya bertanya dengan teman-teman saya yang PKPA disana, saya selalu mendapatkan jawaban yang baik dari mereka “Jef, kamu selalu ditanyain dan diceritain sama Ibu-ibu disini.” Duuuh senengnya ketika saya bisa meninggalkan sesuatu yang baik untuk orang di sekitar saya. Bahkan sampai sekarang saya masih kontak-kontakan dengan kakak-kakak Asisten Apoteker yang ada di RSSN. Selain itu, sebelum saya menyelesaikan PKPA di RSSN, saya dan juga teman-teman PKPA mengadakan homestay, dimana kami bersenang-senang sambil mengenal lebih dekat satu sama lain disana, dan homestay ini juga diikuti oleh Pembimbing kami, Bapak Khairil Armal, Apt, Sp.FRS. Ini merupakan homestay pertama yang diadakan oleh anak-anak PKPA di RSSN, dan saya senang sekali bisa menjadi organizer nya dan melihat antusias teman-teman saya dan juga Pak Armal dalam mengikuti homestay ini. Ada banyak kegiatan yang kami lakukan selama 2 hari di tempat homestay kami di daerah Harau Payakumbuh, dari mulai PKPA RSSN Award, nonton film bareng, refleksi PKPA, dan juga mandi bareng di Air Terjun Harau. Saya senang melihat teman-teman PKPA saya senang, dan semoga momen homestay itu menjadi momen yang tidak terlupakan untuk kami semua.

Setelah 12 minggu menyelesaikan PKPA di Rumah Sakit yang ditutup dengan Case Report Study terkahir, saya melanjutkan pembelajaran ke fase PKPA selanjutnya, Industri Farmasi. Beruntungnya, saya mendapatkan industri farmasi asing sebagai tempat PKPA saya, ini semua berkat bantuan dari salah seorang teman saya yang bekerja disana, Nita, makasih banyak ya nit atas bantuannya. Industri farmasi tersebut adalah GSK (GlaxoSmithKline) Indonesia dibawah lisensi PT. Sterling Produk Indonesia. Pada 4 minggu pertama PKPA, saya ditempatkan di bagian Quality Assurance (QA) dimana saya mengerjakan Gap Analysis untuk Production and Packing Control di area produksi solid. Disini saya belajar bagaimana memastikan mutu suatu obat, dimulai dari bahan obat tersebut datang hingga obat tersebut jadi. Dan disinilah saya tau betul bahwa obat-obat yang dibuat di industri itu memang betul terjamin kualitasnya, khususnya dalam hal ini saya melihat obat-obat yang dibuat di GSK. Setelah itu di empat minggu selanjutnya saya ditempatkan di bagian Produksi Steril, mengerjakan apa yang dapat saya kerjakan disana hehehe, misalnya review SOP (Standar Operasional Prosedur), belajar lagi tentang GMP (Good Manufacturing Practice), dan banyak hal lainnya. Selama PKPA di Industri, saya merasa sangat bangga sekali sebagai seorang Apoteker, melihat profesi Apoteker itu lebih dihargai oleh profesi lainnya, melihat integritas dan loyalitas kerja, dan masa depan yang cerah tentunya hahaha. Dari awal masuk kuliah Apoteker mimpi saya adalah bekerja di industri farmasi asing, makanya saya mati-matian berjuang untuk bisa PKPA di GSK ini, dan Alhamdulillah saya mendapatkan kesempatan itu dan selesai PKPA dengan hasil yang baik.

Terakhir adalah fase Apotek, dimana saya menjalani PKPA selama 4 minggu di Apotek Bio Farma Padang, dengan Apoteker Penanggungjawab Apotek Ibu Najmiatul Fitria, M.Farm, Apt yang juga merupakan dosen saya di FF Unand. Pada fase PKPA Apotek ini saya belajar bagaimana mengelola sebuah Apotek, dari mulai pendirian Apotek hingga pengelolaannya sehari-hari, termasuk di dalamnya adalah pengadaan obat, penyimpanan, dan pemberiannya kepada pasien. Obat memang benda yang kecil, namun benda kecil tersebut dapat mencabut nyawa seseorang apabila salah dalam penggunaannya, maka dari itu profesi apoteker ini ada.

Setelah selesai melaksanakan PKPA, hari-hari yang kurang santai pun tiba. Hari-hari dimana setiap jam itu menjadi penting, setiap langkah kaki itu adalah usaha, dan setiap ucapan yang keluar itu adalah doa. Hari-hari dimana setiap orang sibuk menulis lembar demi lembar logbooknya, mengetik halaman demi halaman laporan dan tugas-tugas khususnya, dan diskusi dengan dosen pembimbing demi secercah ilmu dan sebuah tanda tangan di setiap halaman pertama laporannya. Hari-hari tersebut adalah hari-hari yang sangat tidak santai dan kurang bersahabat, karena hari-hari itulah hari-hari perjuangan demi sebuah gelar yang telah lama ditunggu, Apt (Apoteker). Saya yang orangnya santai, tetap menjadi santai, hingga akhirnya saya menyadari bahwa ujian kompre tinggal dua minggu lagi. Distulah saya berusaha mengerjakan semua tugas-tugas saya hingga akhirnya selesai di malam terakhir menjelang kompre. Dan spesialnya kompre apoteker ini adalah, kita tidak mengetahui siapa yang akan menjadi penguji kita, pastinya akan ada 5 orang penguji dari 5 bidang ilmu, 1 orang bertindak sebagai Ketua Sidang, 1 orang dari bidang Farmasi Klinis (Rumah Sakit), 1 orang bidang Farmasi Industri, 1 orang dari bidang Farmasi Komunitas (Apotek), dan 1 orang dari bidang Sains Farmasi. Penguji-penguji tersebut tidak hanya dosen di FF Unand saja, melainkan juga praktisi-praktisi yang telah bertugas sebagai Apoteker di Rumah Sakit, Industri Farmasi, Apotek, dan bahkan Pemerintahan (BPOM). Siapa penguji yang akan kita temui di Ruang Sidang kita semuanya tergantung kebaikan yang telah kita lakukan selama hidup hehehe. Dan taraaaaaaaa, Alhamdulillah saya mendapatkan penguji yang luar biasa baik-baiknya, dan semuanya adalah dosen-dosen yang pernah mengajar saya. Ada Bapak Prof. Dr. Adek Zamrud, Apt selaku Ketua Sidang, Ibu Dr. Roslinda Rasyid, Apt dari Sains Farmasi, Ibu Nova Syafni, MSi, Apt dari bidang Komunitas, Ibu Deni Noviza, MSi, Apt dari bidang Industri Farmasi, dan Ibu Dian Ayu Juwita, MSi, Apt dari bidang Farmasi Klinis. Alhamdulillah walaupun cukup banyak pertanyaan yang tidak bisa saya jawab, terkhusus pertanyaan-pertanyaan Sains Farmasi dan Farmasi Klinis, hingga Prof. Adek bilang ke saya kalau saya sangat cocok kerja sebagai Marketing di Industri Farmasi hahaha, tepat di tanggal 6 Agustus 2015 pada saat Yudisium Apoteker Angkatan III tahun 2015 FF Unand, saya dinyatakan LULUS, Alhamdulillahirabbilalamin.

Dan pada tanggal 29 Agustus 2015 saya diwisuda sebagai seorang Unregister Pharmacist hehehe, karena belum mengikuti UKAI dan juga belum diambil sumpahnya. Lantas apa yang spesial dari wisuda saya kali ini?

Memang, wisuda kali ini tidak banyak karangan bunga untuk saya, hanya ada satu karangan bunga dari sahabat-sahabat terbaik saya selama kuliah di FF Unand (terimakasih Al, Zel, Sri, Iyin, Sopa), saya juga mendapatkan banyak bunga dan kado dari teman-teman dekat dan juga adik-adik tingkat saya, ada yang memberikan dasi, buku, hingga cinderamata. Namun yang paling spesial di wisuda kali ini adalah predikat kelulusan saya. Alhamdulillah saya lulus program profesi Apoteker dengan predikat DENGAN PUJIAN, dan menjadi satu-satunya laki-laki yang mengenakan selempang Dengan Pujian di hari wisuda itu. Hanya ada 8 dari 72 orang wisudawan/ti program profesi Apoteker Universitas Andalas yang lulus dengan predikat Dengan Pujian, dan betapa beruntungnya saya menjadi salah satu dari delapan orang tersebut. Ini adalah salah satu pencapaian akademik terbaik saya selama kuliah, dimana ini diluar dugaan saya, diluar batas kemampuan saya, percayalah kalau itu saya dapatkan bukan semata-mata karena saya pintar, tetapi juga karena ada faktor keberuntungan di dalamnya, karena prinsip saya adalah apa yang saya dapatkan hari ini merupakan akumulasi perbuatan baik saya selama hidup. Yeay!

SSEAYP

Salah satu hal yang paling mengesankan di kehidupan saya tahun 2015 kemarin adalah SSEAYP (Ship for Southeast Asian and Japanese Youth Program). SSEAYP adalah sebuah program kepemudaan yang diikuti oleh 330 peserta dari 11 negara Asia Tenggara dan Jepang dengan mengusung tema Friendship and Cross Cultural Understanding. SSEAYP telah berlangsung sejak tahun 1974 dan telah mengahasilkan banyak orang sukses di berbagai bidang. Tahun ini Alhamdulillah saya diberikan kesempatan untuk mengikuti 42nd SSEAYP, dan menjadi perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk menjadi IPY (Indonesia Participating Youth). Pada awalnya saya tidak merencanakan hal ini dalam kehidupan saya di tahun 2015. Setelah di tahun 2014 saya belum berhasil menjadi Kandidat Utama Bangka Belitung untuk 41st SSEAYP, saya tidak menjadikan SSEAYP sebagi target saya di tahun 2015, karena biasanya apabila tahun kemarin kandidat utama dari provinsinya laki-laki maka tahun ini kandidat utamanya adalah perempuan, selang seling setiap tahunnya. Namun ternyata seakan-akan konspirasi alam, tahun ini kandidat utama dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk 42nd SSEAYP adalah laki-laki (lagi), maka akhirnya saya memutuskan untuk mendaftar kembali dengan meningkatkan kemampuan saya terutama dalam hal kesenian. Seakan-akan sudah ditakdirkan sebelumnya oleh Yang Maha Kuasa, Alhamdulillah tahun ini saya terpilih sebagai Kandidat Utama Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk 42nd SSEAYP. Oiya, saya mengikuti seleksi SSEAYP ini di dua minggu terakhir PKPA di GSK, dan saya meminta izin selama 2 hari untuk tidak mengikuti PKPA. Setelah 1 minggu kemudian diumumkan kalau saya lolos sebagai Kandidat Utama 42nd SSEAYP, saya langsung meminta izin selama seminggu pertama untuk tidak PKPA di Apotek dengan keperluan balik ke Bangka untuk menyelesaikan semua persayaratan yang diminta oleh Kemenpora, seperti SKCK, Surat Bebas Narkoba, Medical Check-Up, dan syarat-syarat lainnya yang buaaaaanyak banget. Setelah semua persyaratan saya komplit, saya dan juga teman-teman kandidat utama untuk program PPAN lainnya utusan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (ada Fera dan Tyas untuk IChYEP dan juga Sapitra untuk IMYEP) megikuti PDT (Pre Departure Training) lokal yang diadakan secara online. Setiap minggu dari awal bulan Juni hingga pertengahan Agustus kami mendapatkan satu tugas per minggunya, dan itu harus diselesaikan dalam waktu kurang dari satu minggu per tugas. Ada yang tugasnya mempresentasikan esai, menari, medley lagu-lagu daerah, memasak, mempresentasikan permainan tradisional, membuat kerjainan tangan khas Bangka, dan tugas-tugas lainnya. Jadi semua tugas itu saya kerjakan di sela-sela waktu PKPA di Apotek dan juga mengerjakan tugas-tugas persiapan Ujian Komprehensif. What a hectic day, every day during June – August. I love it? No, but I try to love it hahaha. Tapi PDT Lokal ini memberikan arti penting bagi saya, karena dengan PDT lokal ini saya belajar untuk lebih mengenal permainan tradisional dari provinsi saya, belajar membuat video presentasi yang baik, dan belajar banyak hal lagi. Terimakasih kakak-kakak PCMI Bangka Belitung untuk PDT Lokalnya yang keren banget. Setelah disibukkan dengan PDT Lokal, saya kembali disibukkan dengan Training Online SII (SSEAYP International Indonesia) bersama 27 orang Kandidat Utama 42nd SSEAYP dari 27 provinsi lainnya. Selain itu, saya juga harus mempersiapkan barang-barang yang harus saya bawa untuk PDT Nasional dan program nanti, dari mulai cinderamata, pakaian adat, berbagai jenis sepatu, pakaian, hingga semprot kaki. Honestly, SSEAYP menyita waktu saya di tahun 2015 ini, terlalu banyak waktu yang dihabiskan untuk persiapan SSEAYP, bukan hanya waktu sih, tetapi juga pikiran, tenaga, dan uang. Memang untuk keluar negeri gratis ini butuh banyak perjuangan hahaha.

Oiya, SSEAYP bukan hanya tentang keluar negeri gratis, jalan-jalan, liburan, tetapi lebih dari itu. Di SSEAYP saya belajar untuk mencintai Indonesia, belajar menjadi Duta Bangsa, belajar untuk menerima kekurangan dan kelebihan saya, belajar mengenal dan memahami berbagai karakter orang di sekitar saya, belajar percaya diri untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris saya yang apa adanya, dan tentunya belajar mencintai dan menikmati apapun yang saya pilih untuk saya lakukan dalam hidup ini. Entah kenapa, saya menikmati sekali setiap detik yang saya lakukan di program. Walaupun di awal-awal PDT Nasional saya sangat tertekan, tidak punya teman, dihadapi dengan berbagai karakter orang yang sangat ambisius dan egois (secara mereka adalah orang-orang terbaik dari provinsinya), harus menjadi orang yang peduli dengan kesehatan orang lain (sebagai PiC Health and Welfare hahaha), dan waktu pelatihan yang gak santai abis (05.00 – 02.00 WIB, setiap hari). Namun di minggu terakhir PDT (PDT dilaksanakan selama 17 hari di SESKOAL Jakarta), saya mulai menikmatinya. Saya mulai menikmati ritmenya, percakapan dengan teman-teman lainnya, materi-materi yang diberikan, hingga akhirnya saya dan juga 26 orang Kandidat Utama dari masing-masing provinsi se-Indonesia ini dilantik menjadi IPY for 42nd SSEAYP, sedangkan 1 orang kandidat utama lainnya harus pulang ke provinsi asalnya karena kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan untuk mengikuti program.

Akhirnya, mimpi itu menjadi nyata. SSEAYP adalah mimpi saya semenjak pertama kali saya mengenalnya di tahun 2014. Dan Jepang adalah salah satu negara favorit yang masuk dalam list negara yang harus saya kunjungi sebelum mati. Dan pada tanggal 27 Oktober 2015, saya menginjakkan kaki saya di Negeri Matahari Terbit itu, lengkap dengan Attire A1 sebagai pakaian kebanggaan kami sebagai IPY. Selama 52 hari program saya jalani, menikmati setiap detik yang terjadi dalam kehidupan saya, belajar memahami perbedaan, menghargai orang lain, dan mencoba menjadi anak baik-baik, walaupun pada akhirnya gagal hahaha. SSEAYP change my life? No, but SSEAYP give me so many thing that I can’t receive it if I don’t join this program. Thank you for everything, SSEAYP.

PEKERJAAN

Setelah menyelesaikan studi tentu hal yang selanjutnya akan saya lakukan adalah bekerja. Namun, karena SSEAYP ada di depan mata setelah saya disumpah sebagai Apoteker, maka saya menunda untuk bekerja hingga saya selesai mengikuti SSEAYP. Tawaran pekerjaan datang kepada saya sebelum saya resmi disumpah sebagai seorang Apoteker, ada dari Industri Farmasi Asing selayaknya mimpi saya ingin bekerja disana, ada dari PBF (Pedagang Besar Farmasi) di Jakarta, dan juga dari Apotek Kimia Farma tempat saya bekerja sekarang. Pertanyaannya adalah, mengapa saya tidak menerima tawaran untuk bekerja di Industri Farmasi Asing tersebut? Jawabannya adalah karena permintaan orang tua saya untuk bekerja di Bangka, dekat dari rumah, dekat dari keluarga. Sejujurnya saya sedih ketika saya tidak diizinkan untuk bekerja di Industri Farmasi di Jakarta, karena itu adalah mimpi saya, cita-cita saya dari semenjak saya menginjakkan kaki di kelas Apoteker 1 tahun yang lalu, perjuangan yang saya lakukan untuk menggapai cita-cita itu bukan main, saya melaksanakan PKPA di Industri Farmasi Asing, belajar bahasa Inggris lagi, belajar membuat surat lamaran dan CV dengan baik dalam bahasa Inggris, dan SSEAYP salah satunya adalah cara saya untuk bisa menuju mimpi saya itu, karena biasanya Industri Farmasi Asing menyukai orang-orang yang memiliki pengalaman  internasional sebelumnya. Tetapi dalam kehidupan saya, restu orang tua adalah yang utama. Ketika Ibu bilang, kerja saja dulu di Bangka, maka saya akan menurutinya, karena saya tidak berani menentang kata Ibu saya. Dan jadilah sekarang saya bekerja di Apotek Kimia Farma di daerah Sungailiat, Bangka. Alhamdulillah setiap hari saya bisa berkumpul dengan keluarga saya. Memang, keluarga itu bukanlah pilihan, tetapi itu adalah kewajiban karena keluarga adalah anugerah terbesar yang telah diberikan Allah swt untuk kita. Lantas cita-cita saya untuk bekerja di Industri Farmasi Asing bagaimana? Biarkan dia tetap hidup dalam diri saya, dan menunggu hingga harinya tiba ketika Ibu memberikan restu untuk bekerja disana.

ORGANISASI

Di akhir tahun 2014 saya mendapatkan kesempatan untuk bergabung dalam IYHPS (Indonesia Young Health Professional Society), sebuah organisasi yang berisikan professional-profesional muda di bidang kesehatan, ada Dokter, Dokter Gigi, Apoteker, Perawat, Bidan, Ahli Gizi, dan Kesehatan Masyarakat. Pada bulan April 2014, saya bersama teman-teman IYHPS berkesempatan mengisi materi tentang praktek kolaborasi di pelatihan persiapan Nusantara Sehat Batch 1. Saya yang sedang PKPA di Jakarta saat itu diminta untuk bergabung menjadi tim fasilitator yang bertugas untuk memfasilitasi setiap kelompok untuk berdiskusi mengenai praktek kolaborasi, khususnya dalam penyelesaian masalah (case study) ketika mereka di tempatkan di suatu daerah terpencil dan bertugas sebagai tim kesehatan disana. Sebuah kesempatan berharga bagi saya bisa menjadi tim fasilitator di acara pelatihan  persiapan Nusantara Sehat Batch 1 ini, yang merupakan sebuah program terobosan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk mengatasi permasalahan kesehatan di Indonesia, khususnya di daerah terpencil, tertinggal, dan terluar. Namun di tahun ini saya beberapa kali tidak berkesempatan hadir di acara IYHPS, seperti Mubes dan Summit yang diadakan di bulan Agustus dan Oktober 2015, maafkan saya jika kurang amanah kakak-kakak. Semoga di tahun 2016 ini saya bisa lebih aktif lagi dan berkontribusi untuk IYHPS.

Selain itu di tahun 2015 kemarin saya dan juga dua orang teman saya, Fajri dan Widya, membuat sebuah gerakan kepemudaan di daerah kami, namanya Gerakan Babel Mendunia, dengan produk utama adalah website babelmendunia.com. Tujuan kami bertiga mengusung gerakan ini adalah untuk memotivasi dan memberikan informasi kepada pemuda-pemuda Bangka Belitung untuk dapat menginjakkan kakinya di luar negeri, entah itu untuk melanjutkan studi, bekerja, ataupun mengikuti konferensi dan kegiatan kepemudaan lainnya. Gerakan Babel Mendunia ini resmi dilaunching pada tanggal 22 Agustus 2015 oleh Bapak Zuardi selaku Kepala Bidang Pemberdayaan Pemuda Dispora Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Selain acara persemian, pada tanggal 22 Agustus tersebut juga diadakan acara Talkshow Beasiswa Internasional yang mengundang pemuda-pemudi Bangka Belitung yang telah mendapatkan pengalaman untuk belajar dan melanjutkan studi di luar negeri. Semoga Gerakan Babel Mendunia ini bisa terus eksis dan memberikan kontribusi positif untuk dunia kepemudaan Bangka Belitung kedepannya. Mohon doa dan dukungannya ya.

PENGHARGAAN

2015 termasuk salah satu tahun yang penuh anugerah bagi saya, salah satunya adalah penghargaan sebagai Wakil 1 Duta Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Saya mengikuti seleksi ini karena diajak oleh teman saya, dan sebenarnya tidak ada salahnya bagi saya untuk mencoba. Saya mencintai dunia bahasa dan kesusastraan Indonesia sejak kecil, mengikuti berbagai perlombaan sinopsis dari SD hingga SMP, melahap buku-buku sastra seperti Perawan di Saran Penyamun dan Salah Asuhan, mengikuti festival baca puisi dan berbalas pantun, dan mengoleksi buku-buku bahasa dan sastra yang jumlahnya sih memang belum banyak hehehe. Tapi saya betul-betul mencintai dunia bahasa dan sastra Indonesia, walaupun saya anak sains sekalipun. Alhamdulillah di pemilihan Duta Bahasa tersebut saya berhasil masuk ke final, mengikuti tes UKBI (Uji Kemahiran Bahasa Indonesia) dan mendapatka predikat I (Istimewa) hehe, mempresentasikan esai yang saya buat mengenai pentingnya belajar bahasa Indonesia sedari dini, dan juga mengikuti tahap wawancara dan sesi tanya jawab. Hasilnya sangat memusakan dan di luar ekspektasi saya, Wakil 1 Duta Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung resmi saya dapatkan pada tanggal 13 Agustus 2015 setelah menjawab pertanyaan akhir yang tidak akan pernah saya lupakan “Setujukah Anda apabila Pemilihan Duta Bahasa ini merupakan ajang eksistensi semata?”, dan dengan tegasnya saya menjawab, “Tidak, karena bagi saya pemilihan Duta Bahasa adalah pemilihan Duta, dan menjadi seorang Duta Bahasa merupakan sebuah amanah, dan amanah harus dipertanggungjawabkan tidak hanya di dunia saja, tetapi juga di akhirat nanti”, jawaban yang sangat religius dan mengundang tepuk tangan dari penonton. Kalian belum tau betapa bejatnya saya? Hahaha.

TRAVELING

Tahun 2015 kemarin adalah kesempatan yang luar biasa bagi saya untuk berpetualangan menjelajahi indahnya dunia ini. Saya traveling ke 5 negara dan 7 provinsi yang ada di Indonesia.

Januari: Balik ke kampung Ibu di Batangtoru untuk menghadiri acara pernikahan kakak sepupu saya, kak Novalita Syarma Pane, salah satu sepupu seperjuangan selama studi di Padang.

Februari: Eksplore Bukittinggi dan sekitarnya, selagi masih PKPA di RSSN.

Maret: Eksplore Payakumbuh dan Homestay di daerah Harau bareng temen-temen PKPA.

April: Balik ke Bangka, kemudian melanjutkan PKPA di Jakarta. Eksplore Jakarta.

Mei: Ciwidey dan Bandung bareng temen-temen PKPA di GSK (Ersa, Yuda, Hengki, Yasinta, dan Nidya). Goes to Anyer bareng Vicky. Di akhir bulan balik lagi ke Bangka.

Juni: Menemani Tulang Udin berobat ke Melaka, Malaysia. Lanjut PKPA di Padang.

Juli: Home Sweet Home, Bangka again.

Agustus: Ujian Komprhensif di Padang, lanjut makan lenggang bakar di Jambi, dan makan pempek ke Palembang.

September: Bolak Balik Padang – Bangka. Sebelum meninggalkan Kota Padang untuk selamanya, liburan dulu ke Pulau Cubadak bareng Arif, Deni, dan Said.

Oktober: It’s time to SSEAYP. PDT di Jakarta, terbang ke Tokyo dan Nagasaki untuk Japan Country Program.

November: Tokyo for Youth Leader Summit, berlayar dengan Kapal Nippon Maru membelah Lautan ke Manila (Philippine), Ho Chi Minh City (Vietnam), dan Yangoon (Myanmar).

Desember: masih berlayar dengan Kapal Nippon Maru ke Kota Kinabalu (Malaysia) dan kembali ke Tokyo (Jepang). Setelah itu mengikuti re-entry program di Jakarta. Dan terakhir balik ke Bangka.

Alhamdulillah target-terget yang saya susun di awal tahun 2015 tercapai dengan baik, walaupun masih ada beberapa target yang harus digaris bawahi karena belum tercapai, diantaranya adalah tentang kedekatan saya dengan Allah swt melalui proses ibadah, ini memang saya rasakan masih kurang, shalat wajib saya beberapa kali bolong, ngaji pun belum konsisten, apalagi untuk menghapal juz’ama. Tetapi sisi positifnya, selama program SSEAYP saya berusaha untuk menjadi agen muslim yang baik, memberikan pemahaman kepada teman-teman saya yang berbeda agama bahwa muslim itu tidak sestrict yang mereka bayangkan, tetap bertahan pada prinsip bahwa Babi itu haram dan Alkohol itu tidak diperbolehkan.

Selain itu, target berat badan ideal juga sirna di telan tahun 2015, boro-boro mau turun hingga jadi 80 kg, mempertahankan berat badan untuk tidak lebih dari 90 kg aja udah ketar-ketir hahaha. Duuuuh, semoga di tahun 2016 berat badan ideal itu bukan hanya omong kosong belaka, semoga benar-benar jadi kenyataan Ya Allah, lelah saya dikatain orang gendut -____-“.

Ada lagi target yang belum kecapai di tahun 2015? Ada, nilai TOEFL dan konsistensi dalam membangun blog yang berkualitas. Nilai TOEFL saya masih jauh dari ambang batas normal nih, makanya sampai sekarang saya masih berusaha untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris saya, semoga di tahun 2016 ini nilai TOEFL saya menginjakkan kakinya di angka 500, Amin. Untuk hal bloging, saya memang belum bisa menjadi bloger yang baik di tahun 2015 yang lalu, entah kenapa target untuk memposting tulisan setiap bulan seakan sirna ditelan kesibukan saya sebagai mahasiswa PKPA dan persiapan SSEAYP yang menyita waktu saya. Saya janji, tahun ini saya akan menjadi bloger yang baik. Tolong ingatkan kalau saya nakal lagi ya saudara-saudara pembaca.

Begitulah kehidupan saya di tahun 2015 yang lalu. Keren? Enggak dong, tapi BERSINAR, karena di tahun ini saya bisa mencoret kembali satu persatu mimpi yang telah saya tuliskan bertahun-tahun lalu, bisa mencapai hal-hal yang saya rasa itu di luar batas kemampuan saya, bisa mengunjungi 4 negara baru dalam hidup saya, dan belajar banyak hal dari alam dan lingkungan sekitar saya, khususnya dari para penghuninya, manusia. Terimakasih untuk orang-orang yang telah MENYINARI kehidupan saya di tahun 2015 yang lalu, untuk mereka yang selalu ada di hati saya atas kebaikannya, mereka yang telah mengajarkan saya artinya penting berbuat baik kepada orang lain, mereka yang selalu menebar kebaikan dimanapun mereka berada, mereka yang selalu menjadi diri mereka yang apa adanya, dan mereka yang selalu membuat saya menjadi tau bahwa hidup itu harus dinikmati dan salah satu cara menikmatinya adalah dengan memberikan yang terbaik bukan hanya untuk hidup di dunia saja, tetapi untuk tabungan hidup di akhirat nanti. Terimakasih, dan semoga di tahun 2016 ini kita bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi.

RESOLUSI 2016

 

MENJADI HAMBA ALLAH YANG LEBIH BAIK LAGI

KERJA DI INDUSTRI

JALAN-JALAN KE TEMPAT BARU LAGI

PUNYA BARANG BARU LAGI, HASIL KERINGAT SENDIRI.

Sekian resolusi saya untuk tahun 2016 ini. Yakin bisa kecapai semuanya? Tidak, tetapi saya yakin bahwa saya mau berusaha untuk mencapai resolusi-resolusi tersebut, satu persatu, tahap demi tahap.  Jadi nanti ketika review akhir tahun, saya dengan bahagia melihat satu persatu resolusi saya tercapai. Amin…

Mungkin? “Nothing is impossible, because the word itself said I’M POSSIBLE” – Audrey Hepburn.

Mohon doanya ya. Bismillahirrahmanirrahim.

@jephefrand

SSEAYP Journey: COUPLE 14

Pangkalpinang, 24 Desember 2015

SSEAYP tidak bisa dipisahkan dengan yang namanya couple (pasangan), karena peserta program ini terdiri dari 28 orang dengan formasi 14 putra dan 14 putri. IPY (Indonesia Participating Youth) memberlakukan couple ini dimulai dari PDT hingga re-entry. Couple disusun berdasarkan tinggi badan masing-masing orang di kontingen, dimulai dari couple 2 (paling pendek di kontingen) hingga couple 14 (paling tinggi di kontingen), sedangkan untuk couple 1 dikhususkan untuk YL (Youth Leader) dan AYL (Assisstant Youth Leader).

Pada saat Pra-PDT, kami (Garuda 42) kontingen Indonesia untuk 42nd SSEAYP 2015 sudah mendapatkan couple kami. Penentuan couple kali ini sama dengan tahun-tahun sebelumnya, yaitu berdasarkan tinggi badan yang diukur secara langsung oleh alumni dengan membariskan kami di satu ruangan dengan ketinggian yang sama. Sebagai putra tertinggi, saya dipasangkan dengan Fika di Couple 14 Garuda 42. Fiks, Couple 14 Garuda 42, couple paling belakang.

Kisah Sedih dan Bahagia jadi Couple 14

Jadi couple 14 itu lebih banyak sedihnya dari pada bahagianya. Gak percaya? Lihat aja foto berikut

11225298_10206765742760089_8632787680480464062_n

Foto diatas adalah foto flag cheers kita di Malaysia. Foto ini jauh lebih baik kalau dibandingkan dengan foto flag cheers kita di Vietnam. Kalau melihat foto diatas saya dan Fika miris sekali. Udah yang kelihatan cuma kepalanya aja, setengah, blur pula. Makanya sampai saat ini saya tidak ada mengcopy file asli dari foto diatas, karena sakit hati hahaha. Foto diatas diambil dari facebook salah satu IPY 2015. Untungnya, foto kontingen terdiri dari beberapa formasi, ada formasi 1 sampai dengan formasi 4. Formasi favorit saya sih formasi 2, dimana posisi saya berada di belakang antara NL dan YL. YESS!

Tidak hanya tentang foto flag cheers, nasib buruk kita sebagai couple 14 juga sering ditemukan saat baris dari Lantai 2 menuju Dolphin Hall kalau ada Flag Hoisting Ceremony ataupun acara-acara formal lainnya. Sang Protokol yang notabene keduanya adalah Couple 8, tidak mengerti perasaan kita sebagai couple terbelakang dan mereka sering menghardik kita dengan teriakan seperti ini: “Ehh couple 14 buruan dong jalannya, atau, ehh Jefri Fika lihat tuh kalian ketinggalan jauh dari barisan”, dia gak tau apa teori naik tangga, ketika yang di depan naik tangga duluan, kita yang di belakang masih nunggu giliran naik tangga, ketika mereka udah sampai di atas, kita baru mau akan naik tangga, ya jelas dong kita ketinggalan jauh. Kadang saya dan Fika harus berlari-lari kecil untuk mengejar ketertinggalan kita oleh couple yang berada di depan.

Selain itu, pada saat PDT kita juga sering miris, terutama pada saat jadwalnya makan. Sebagai couple terbelakang, kebayang kan kita ga punya banyak pilihan untuk lauk yang akan kita makan, apalagi soal ukuran, lauk sih boleh sama-sama ayam, tapi ukurannya beda loh hahahaha *apasihinigapentingbanget. Selain itu, kita juga sering dibentak oleh protokol untuk cepat mengambil makanannya, karena prosesi makan belum bisa dimulai kalau semua IPY belum duduk. Gimana mau cepat coba, orang kita aja baru mau ngambil nasi karena antrian, mereka sih enak udah ngambil duluan jadi duduknya juga duluan, dasar ga berperasaan.

Tapi di balik itu semua, menjadi couple 14 juga ada senengnya. Misalnya nih kalau ada rapat kontingen, maka couple check akan diurut dari couple 1, sehingga couple 14 yang dicek terakhir bisalah dateng rapat telat-telat dikit, dasar komunis hahaha. Selain itu jika ada acara di Dolphin Hall yang duduknya berdasarkan kontingen, maka kami sangat bahagia sekali, karena duduknya paling belakang, gak ada yang merhatiin, dan bisa curcol sepanjang waktu kosong. Kita juga berhubungan baik dengan couple-copule 14 dari negara tetangga kita di barisan, ya namanya juga sesame couple 14 yang merasa senasib sepenindasan selama program. Sebut saja Kriss dan Christina, couple 14 dari Cambodia, mereka sering ngajak kita ngobrol kalau di barisan, dan di sesi terakhir (debriefing session) Kriss mengajak kita foto bareng sesama couple 14, ya walaupun gak kejadian ya fotonya, karena takut dipelototin sama couple 1-13 hahaha. Di barisan sebelah kanan kita ada Mama Penda dan Mr. X dari Singapura selaku Couple 14. Di sesi terakhir juga Mama dengan tidak segan-segannya merebahkan kepalanya ke bahu saya dan kemudian dia tertidur, mungkin selama ini dia lelah sebagai couple 14 dengan segala ketidakadilan yang ada hahaha.

Begitulah sekelumit cerita saya dan Fika sebagai couple 14, couple terbelakang di kontingen, couple yang selalu berharap formasi 2 menjadi formasi tetap kalau foto kontingen, couple yang selalu berdoa agar pengambilan makanan waktu di PDT dimulai dari couple 14, couple yang selalu diteriaki protokoler kalau lagi jalan di barisan “Fika Jefri buruan”, dan couple paling komunis sekontingen, bodo amat.

20151026_215737

20151101_090027

20151205_215556

20151205_132034

20151215_143547

Tentang Couple Saya, Fika (Couple 14 Putri)

Namanya Fika Nurazam Wirastuti, asli Jogjakarta. Saat ini Fika masih tercatat sebagai mahasiswa semester 7 di Jurusan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM). Walaupun kuliah di UGM, kadang-kadang Fika masih bego kok, percaya deh hahaha. Fika adalah satu-satunya wanita yang membobolkan pertahanan saya sebagai lelaki (baca: mewek) sebanyak 3 kali selama program dan re-entry. Pertama waktu saya membaca surat yang diberikan Fika ke saya sebelum Nippon Maru merapat kembali ke Jepang. Kira-kira isi suratnya gini:

“Finally program ini (on board) udah hampir kelar ya kak. Setelah melewati masa-masa up and down, setelah belajar banyak hal sambil liburan. I will miss you kak. Kangen sama obrolan-obrolan gak penting, ngomongin orang, ngomongin organisasi, sampe ngomongin agama hahaha. Kakak yang suka cuek, gak urus sama orang, tapi kadang perhatian, romantis, lucu, bijak, dan kadang sok agamis. Thank you for your time, your advise, your share, and everything. Maaf kalo suka gak jelas dan kadang suka bego, tapi kamu kadang juga suka bego sih kak hahaha. Kalo nyampe Jogja, gak ada lagi nah nyariin kakak, soalnya kita gak ada baris-baris lagi, gak ada ngomongin barisan depan yang kadang suka gak tau perasaan couple paling belakang. Hopefully kita bisa keep in touch ya kak, meskipun besok kalo udah pulang kakak bakal sibuk nyari duit buat nikah. Kalo kangen telepon aja ke kabin 224 ya kak hahaha.

Dari orang yang sabar ngetok pintu 358 kalau ada kumpul pagi = Fika”

Kedua waktu re-entry sesi mbak Fardhal dimana kita diminta untuk memuji couple kita satu sama lain, disitulah air mata saya berhamburan keluar dari sarangnya. Saya menyampaikan semua rasa bahagia saya mendapatkan couple seperti Fika selama perjalanan SSEAYP 2015 ini.

Dan yang terakhir saat saya menuliskan surat untuk Fika di bandara, dimana surat tersebut ditulis langsung oleh hati saya dengan semua kebahagian dan kesyukuran memiliki couple seperti Fika. Fika yang baik hati, sederhana, tidak memilih-milih teman, Fika yang apa adanya, Fika yang sangat bersinar selama program, dan tentunya Fika yang sangat sabar telah (tidak) beruntung mendapatkan couple seperti saya.

Saya ingat betul ketika saya sakit di program, Fika dengan rela tidak makan demi mengambilkan saya sarapan di Dining Hall dan mengantarkannya ke Nurse Room. Fika yang selalu menjadi tong sampah pertama saya ketika saya memiliki puluhan cerita tentang kehidupan saya di homestay. Fika yang selalu dengan setia mengetok pintu kabin saya ketika ada kumpul pagi, dan menelepon ke kabin saya hanya untuk memastikan saya sudah bangun atau belum. Thanks for everything Fik. Gantungan kunci timah itu belum bisa membalas semua kebaikanmu padaku. Kakak janji akan mengunjungi Fika suatu hari nanti di Jogja tercinta, kita makan mie bareng lagi dan kali ini gak akan ada makhluk-makhluk dari Papua, Madura, ataupun Palu yang gangguin kita. Kita ngerumpi lagi, dan cerita-cerita dari hal yang gak penting sampe hal yang paling gak penting. Tunggu kakak di Jogja ya Fik.

Oiya Fik, jangan lupain kakak ya, jangan lupain malam terakhir kita di kapal, ruang kapten, ruang mesin, dapur, ruang Japanese Tea, lantai 8, cerobong asap, dan lain-lain. Jangan lupain juga malem star gazing kita, dimana untuk pertama kalinya kakak ketemu sama Rena, sahabatmu yang gila itu. Jangan lupain juga malam terakhir kita di Jakarta, karoke bareng temen-temen deket kita dan juga alumni, nyanyiin lagu Flying Without Wings yang buat kita baper pelukan berenam, dan jangan lupain juga panggilan sayang kakak ke kamu ya Fik (Natasya). Rindu kamu!

20151220_133514

Tentang Saya, Jefri (Couple 14 Putra)

Nama saya Jefri, Apoteker lulusan Universitas Andalas yang begonya hampir sama kaya Fika hahaha. Saya orangnya baik, pendiam, dewasa, nurut dan gampang diatur, paling gak bisa telat, dan peduli banget sama kontingen, sampe-sampe saking pedulinya pernah mau ngasih ta* ke IPY yang sakit, percaya deh kalau itu typo hahaha.

Sekian dulu cerita dari saya tentang Perjalanan Mencintai Negeri edisi COUPLE 14. Tulisan ini sengaja saya buat untuk berbagi kenangan kepada teman-teman yang pernah menjalankan program yang sama dengan saya, atauapun berbagi pengalaman kepada teman-teman yang akan menjalankan program yang sama seperti saya di tahun-tahun mendatang. Niatnya hanya satu, BERBAGI.

Mohon maaf kalau ada salah-salah kata.

Terimakasih

Pemilihan Duta Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

YUK IKUTAN !!!

Sumpah Pemuda 1928 menjadi bukti peran pemuda dalam membangun konsep kebangsaan Indonesia. Semangat dan ketokohan para pemuda tersebut harus dipertahankan dan diperkuat agar tonggak-tonggak kebangsaan tetap kokoh dan terjaga. Pemilihan Duta Bahasa adalah upaya melibatkan pemuda Indonesia dalam menjaga tonggak-tonggak kebangsaan tersebut. Para pemuda Indonesia diharapkan memiliki kemahiran berbahasa, sikap, dan perilaku yang dapat dijadikan teladan. Berkaitan dengan itu, sejak 2011, Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung telah melakukan Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Provinsi. Pada tahun 2015 ini, Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung kembali menyelenggarakan Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Provinsi yang duta-duta terpilihnya menjadi mitra kerja Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung dalam memasyarakatkan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dan mewakili Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional Tahun 2015 di Jakarta.

Persyaratan Peserta

  1. Mengisi formulir pendaftaran di sini
  2. Berusia 18—25 tahun, minimal lulusan SMA/sederajat, belum menikah.
  3. Warga atau berdomisili di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
  4. Melampirkan foto seluruh badan terbaru.
  5. Membuat esai 3—5 halaman, Arial 11, spasi 1,5 dengan tema Peran Duta Bahasa dalam memasyarakatkan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
  6. Softfile foto dan esai peserta dikirimkan ke email keg.kantorbahasababel@gmail.com.
  7. Follow Twitter @K_BahasaBabel   https://twitter.com/K_BahasaBabel      dan like fanpage Facebook Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitunghttps://www.facebook.com/kantorbahasababel?ref=bookmarks.
  8. Ikut mempromosikan (repost) kegiatan ini di media sosial, baik facebook, twitter, atau blog pribadi (link repost dicantumkan ke email yang dikirimkan).
  9. Berkas pendaftaran diterima paling lambat 31 Juli 2015.

Tahapan Seleksi

  1. Seleksi esai dan administrasi. Panitia akan menyeleksi 40 peserta untuk diundang ke Pemilihan Duta Bahasa Prov. Kepulauan Bangka Belitung. Nama peserta yang terpilih sebagai 40 besar akan diumumkan pada 5 Agustus 2015.
  2. Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI)
  3. FGD (focus group discussion)
  4. Wawancara
  5. Presentasi esai
  6. Tanya jawab
  7. Duta Terfavorit dipilih berdasarkan banyaknya like di media sosial.

Pelaksanaan Lomba: Rabu—Kamis, 12—13 Agustus 2015 di Pangkalpinang

Pemenang I (pa/pi) Rp6.000.000,00 dan diikutkan dalam Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional di Jakarta

Pemenang II (pa/pi) Rp4.000.000,00

Pemenang III (pa/pi) Rp3.000.000,00

Masing-masing pemenang juga akan mendapatkan tropi dan piagam penghargaan.

Narahubung

Feri Pristiawan      : 085228414996

Prima Hariyanto    : 0817811525

Dwi Oktarina         : 085743455691

pos-el                    : keg.kantorbahasababel@gmail.com

Panitia Pemilihan Duta Bahasa 2015 Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

d.a. Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung, Jalan Yos Sudarso no. 7, Gabek, Pangkalpinang

Informasi lebih lanjut silakan mengunjungi website Kantor Bahasa Babel di https://kantorbahasababel.wordpress.com/2015/06/04/pemilihan-duta-bahasa-2015-provinsi-kepulauan-bangka-belitung/

Imlek: China dan Pulau Bangka

Bukittinggi, 19 Februari 2015

Hari ini masyarakat Tionghoa (China) memperingati tahun baru Imlek, begitupun dengan masyarakat Indonesia keturunan China. Ketika saya tau kalau hari ini Imlek, saya langsung teringat dengan tanah kelahiran saya, Bangka.

DSC_0329

Bangka merupakan sebuah pulau yang cukup besar dan terletak di sebelah timur pulau Sumatera (tepatnya di sebelah provinsi Sumatera Selatan). Ketika saya menanyakan tentang pulau Bangka kepada teman-teman yang pernah pergi kesana dengan berbagai alasan (kebanyakan sih untuk traveling), ada 3 hal yang hampir selalu menjadi komentar mereka. 1) Pantai di Bangka itu bagus-bagus banget ya, pasirnya putih dan lembut, lautnya biru jernih, dan ombaknya tidak terlalu besar, enak untuk mandi-mandi dan bersantai disana. 2) Bangka itu ternyata maju juga ya, gak seperti yang saya lihat di film Laskar Pelangi (Yaiyalah, kan Laskar Pelangi syutingnya di Belitong, dan Bangka Belitung itu adalah dua pulau yang berbeda, Catet!). 3) Di Bangka China-nya banyak banget ya, dimana-mana ada orang China.

Salah satu pantai di Pulau Bangka, Pantai Parai Tenggiri.

Salah satu pantai di Pulau Bangka, Pantai Parai Tenggiri.

Baiklah, karena hari ini tahun baru Imlek, maka 2 komentar teratas di-skip saja dan fokus pada komentar yang ke-3 hehehe.

Memang betul China di pulau Bangka jumlahnya sangat banyak. Berdasarkan SP tahun 2010 jumlah keturunan China yang ada di provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencapai 11,54% dari total penduduk 1.223.296 jiwa¹, dan mungkin jika dipersentasekan untuk pulau Bangka sendiri jumlahnya juga tidak akan jauh-jauh dari angka 11%. Itu jumlah yang banyak dan merupakan suku bangsa terbesar kedua yang ada di pulau Bangka setelah penduduk aslinya, Melayu. Saya sendiri tidak asing lagi dengan hal ini, bagaimana tidak, ketika saya sekolah di SMP Negeri 6 Pangkalpinang yang konon merupakan sekolah negeri, 30-40% jumlah muridnya adalah keturuan China. Mereka ini terkenal akan kepintarannya, kalau satu kelas dengan mereka jangan terlalu berharap deh untuk bisa menjadi juara pertama. Bahkan, yang ikut olimpiade matematika utusan dari sekolah saya juga kebanyakan anak China. Emang mereka pintar-pintar, tapi gak semuanya juga. Begitupun dengan hal perekonomian. Jangan kira China di Bangka semuanya kaya seperti China di Jakarta sana. Di Bangka kita akan mudahnya melihat China berkebun, berjualan kebutuhan pokok di pasar, dan bahkan ada yang berjualan sayur keliling pemukiman warga. Saya pribadi dan keluarga ketika musim durian tiba seringkali pergi ke rumah teman Bapak yang merupakan orang China untuk membeli durian yang ada di kebunnya. Jangan tanya soal harga, yang pastinya mereka berani memberikan harga murah untuk rekan-rekan mereka.

Salah satu kelenteng yang ada di Kota Sungailiat, Bangka

Salah satu kelenteng yang ada di Kota Sungailiat, Bangka

Kawasan Perkuburan China "Sentosa" Kota Pangkalpinang, Bangka

Kawasan Perkuburan China “Sentosa” Kota Pangkalpinang, Bangka

otakotak

Otak-otak: Makanan khas Bangka yang dibuat oleh China Bangka.

Ketika SMA saya pernah mengikuti pemilihan Duta Wisata Bujang Dayang Kota Pangkalpinang. Pada pemilihan ini banyak bujang-gadis China yang juga ikut serta, dan bahkan untuk pemenang Dayang Kota Pangkalpinang tahun 2007 dan 2008 berturut-turut adalah mereka yang keturunan China.

(kiri) Finalis Bujang Kota Pangkalpinang, (kanan) Dayang Kota Pangkalpinang 2008. Mereka berdua adalah Bujang Dayang keturunan China.

(kiri) Finalis Bujang Kota Pangkalpinang, (kanan) Dayang Kota Pangkalpinang 2008. Mereka berdua adalah Bujang Dayang keturunan China.

China di Bangka telah dianggap sebagai masyarakat lokal pulau Bangka, karena memang tidak ada perbedaan antara China dan Melayu sebagai warga provinsi Kepulauan Bangka Belitung, semuanya dianggap sama, yang membedakannya adalah kepercayaan yang dianutnya. China di Bangka pun dalam kesehariannya sangat berbaur dengan masyarakat lokal. Di Bangka tidak ada istilah yang namanya kampung China, karena orang China bisa tinggal dimana saja, di pusat kota, pinggiran kota, bahkan di kebun sekalipun. Dan sejauh ini tidak ada yang namanya rasisme (dia Melayu atau dia China) dalam keseharian masyarakat pulau Bangka, entah itu untuk urusan pendidikan maupun pekerjaan. Dalam urusan pemilihan kepala daerah sekalipun banyak keturunan China yang maju menjadi calon Gubernur, Bupati, maupun Walikota, dan hal tersebut tidak pernah dipermasalahkan. Intinya, pada tulisan ini saya ingin mengungkapkan bahwa di pulau Bangka tempat saya berasal, Melayu dan China itu telah bersatu padu menjadi masyarakat yang berbaur, saling mengerti, saling memahami, dan yang paling penting saling menghargai.

Di akhir tulisan ini saya ingin menampilkan sebuah paragraf yang disampaikan oleh Trinity dalam buku The Naked Traveler 3 BAB IV tentang Toleransi Beragama, “Saya terkesan dengan pulau Bangka. Konon, Bangka adalah contoh keberhasilan asimilasi budaya antara Melayu dan China. Telah sekian lama mereka hidup berdampingan sehingga tidak ada pergesekan SARA.”

Semoga hingga kapanpun China dan Melayu di Pulau Bangka akan tetap seperti sekarang ini, hidup rukun berdampingan dalam keberagaman.

-sekian-

Review 2014 dan Resolusi 2015

Padang, 1 Januari 2015

Alhamdulillah 2014 telah berlalu, dan sekarang telah memasuki tahun 2015, dimana kata orang-orang di tahun ini kita telah memasuki era masyarakat ekonomi ASEAN atau yang lebih dikenal dengan istilah ASEAN Economic Community (AEC). Bagi mahasiswa farmasi juga di tahun ini akan memulai sebuah tantangan baru yang bertujuan untuk menyamaratakan kompetensi dari seluruh Apoteker yang ada di Indonesia, dan tantangan itu kita kenal dengan nama UKAI (Uji Kompetensi Apoteker Indonesia). Namun di tulisan kali ini bukan kedua hal tersebut yang akan saya bahas, melainkan apa yang telah saya lalui di tahun 2014 yang lalu dan apa resolusi saya di tahun 2015 ini.

REVIEW 2014

2014 bagi saya merupakan tahun HYSTERIA (bukan gangguan syaraf ya, tapi kayak wahana hysteria yang ada di Dufan hehehe) , karena di tahun ini kehidupan saya ada kalanya santai dan terkadang ada fase berat yang harus saya lalui. Di tahun 2013 yang lalu hanya ada dua fokus utama saya untuk tahun 2014, yaitu menyelesaikan amanah di ISMAFARSI dengan baik dan memakai toga di Auditorium Universitas Andalas (WISUDA). Alhamdulillah kedua hal tersebut terwujud dengan sangat indah dan mengesankan.

Tentang amanah saya di ISMAFARSI. Di awal tahun 2014 sejujurnya saya sudah mulai jenuh dengan amanah ini, karena selama satu setengah tahun hidup saya hanya berkutat di ISMAFARSI saja. Memang fokus pada satu organisasi merupakan pilihan saya, karena saya tidak mau terlibat di banyak organisasi namun tidak maksimal dimana-mana, karena bagi saya amanah itu memang harus dijalankan, bukan hanya sekedar pajangan yang bisa menjadi penambah daftar riwayat hidup (CV). Namun rasa jenuh itu perlahan hilang ketika saya melihat beberapa tim saya masih semangat membara dan terus memberikan inspirasi ke saya, sebut saja Aril misalnya. Dia sangat bersemangat sekali untuk memberikan metode pelatihan terbaik di Latihan Kepemimpinan Nasional (LK III) ISMAFARSI, dan itu adalah salah satu hal yang membuat saya kembali bersemangat. LK III ISMAFARSI adalah saatnya bagi saya untuk mencari penerus saya di organisasi ini, dan selama LK III berlangsung saya sudah mengantongi beberapa nama yang bisa saya pantau trackrecordnya di organisasi. Alhamdulillah salah satu yang saya pantau terpilih sebagai Sekjend ISMAFARSI 2014-2016 menggantikan saya, yaitu Ridho Muhammad Sakti dari Farmasi UI. Selamat menjalankan amanah, do.

Pada saat LK III yang dilanjutkan event Pramusyawarah Nasional (Pramunas) XV ISMAFARSI yang berlangsung pada bulan Januari lalu banyak sekali pelajaran yang bisa saya ambil, salah satunya adalah bagaimana menilai orang lain bukan dari covernya saja, menilai bukan hanya dari satu dua kali bertemu, namun menilai dari berbagai aspek. Disini saya mendapatkan kenyataan ternyata ada diantara tim saya yang tidak suka dengan karakter saya, lantas secara diam-diam menjadi duri dalam daging, dan mencari muka ke orang lain lantas mengahsutnya. Disinilah saya belajar sakitnya dikhianati. Dikhianati oleh orang yang telah saya percaya bisa mengemban amanah yang telah saya berikan, dan dapat membantu serta menyokong saya hingga akhir kepengurusan namun ternyata tidak demikian adanya. Tetapi saya ikhlas, karena ternyata pada akhirnya Allah swt menunjukkan kebenarannya, siapa yang benar dan siapa yang kurang benar. Di event LK III dan Pramunas XV ini juga saya baru menemukan orang-orang yang cukup munafik dan rela berbohong agar dirinya dianggap benar. Intinya, LK III dan Pramunas XV ini merupakan event terburuk saya selama berada di ISMAFARSI, maaf.

Setelah selesai Pramunas XV, saya fokus pada penyelesaian program kerja yang telah saya dan tim buat. Dan pada bulan Februari saya ditemani Wimzy, Deby, dan Delvina hadir di Kongres Nasional XIX IAI, dan disanalah saya mengetahui bahwa nama ISMAFARSI ternyata masuk dalam AD ART-nya IAI dimana ISMAFARSI merupakan mitranya IAI. Pada kongres ini saya diberikan kesempatan untuk mengikuti rapat internal tahunan APTFI dan mempresentasikan BIMFI dan rencana penyelenggaraan program pertukaran mahasiswa nasional (SEP Nasional) ISMAFARSI, dan alhamdulillah mendapatkan apresiasi dari para dekan/ketua jurusan PTF yang hadir. Pada saat kongres tersebut saya juga berkesampatan menghadiri reunian alumni farmasi Unand di RM Sederhana Sudirman, dan disanalah saya bertemu dengan seorang alumni farmasi Unand yang telah sukses dan menawarkan pekerjaan kepada saya. Namun sayangnya saya belum bisa menerima pekerjaan tersebut karena saya belum yakin dengan kemampuan yang saya miliki hehe.

Kongres Nasional IAI

Selanjutnya di bulan Juni saya hadir pada kegiatan NHC (Nusantara Health Collaborative) Regional 8 dengan ketua pelaksananya Shanty. Alhamdulillah kegiatannya sukses, banyak media yang meliput, dan ada follow-up yang jelas pasca kegiatan. Dan ternyata NHC Regional 8 ini terpilih sebagai TOP 5 NHC Award yang diadakan oleh HPEQ Project pada bulan Desember lalu. Selamat Shanty dan tim, selamat ISMAFARSI. Proud it!

NHC Reg 8

Masih di bulan Juni saya harus mempersiapkan segala kebutuhan Musyawarah Nasional (Munas) XV ISMAFARSI, seperti laporan pertanggungjawaban (LPJ), inventaris organisasi, dan koordinasi dengan panitia terkait persiapan teknis penyelenggaraan kegiatan. Akhirnya pada tanggal 27 Juni 2014 saya resmi digantikan oleh Ridho untuk melanjutkan estafet perjuangan di ISMAFARSI. Terimakasih banyak kepada semua panitia NEF dan MUNAS XV ISMAFARSI di UII Jogjakarta, ini adalah event terbaik yang pernah saya ikuti selama berada di ISMAFARSI, dan kalian telah membuat masa kepengurusan ISMAFARSI BERSINAR menjadi happy ending. Terimakasih juga untuk semua delegasi MUNAS XV beserta ketua-ketua LEM dan CP-nya. Dan tentunya ucapan terimakasih spesial saya untuk para Staf Ahli, Koordinator Wilayah, dan Badan Pengawas ISMAFARSI 2012-2014. Kalian bukan hanya sekedar tim, tapi juga keluarga bagi saya. Terimakasih untuk perjuangan kalian, pengorbanganan kalian, tawa dan tangis yang kalian berikan, terimakasih banyak (mungkin butuh edisi khusus untuk menceritakan orang-orang hebat ini, soon ya). Kalau ke Padang atau ke Bangka jangan lupa kasih kabar, tahun 2016 kita reuni di MUNAS XVI Palu ya, jangan lupa, catat! Hehe

Munas XV ISMAFARSIBP BPH ISMAFARSI 2012-2014

Alhamdulillah amanah di ISMAFARSI selesai dengan baik, happy ending, dan standing applause dari para delegasi MUNAS XV selesai kami membacakan LPJ kepengurusan.

Tentang WISUDA. Kata orang tidaklah mudah untuk mendapatkan gelar sarjana, dan saya telah merasakan hal tersebut, dan faktanya memang IYA. Sebelum toga saya sematkan di acara resmi wisuda, saya terlebih dahulu harus mendaki puncak kesungguhan untuk menemui dosen pembimbing, puncak kesabaran untuk berurusan dengan sistem birokrasi fakultas yang ribet, puncak ketekunan mengolah data hasil penelitian dan menulis skripsi, dan puncak keseriusan belajar menghadapi seminar hasil dan kompre. Dan ternyata semua itu terbayar dengan sangat indah dengan satu kata, W I S U D A. Kata itulah yang ditunggu-tunggu oleh orangtua saya dari satu tahun sebelumnya, dan saya punya misi bagaimana caranya agar orangtua saya bisa bahagia pada saat saya wisuda.

Hari Sabtu, 23 Agustus 2014 merupakan hari wisuda saya. Pada hari itu banyak kejutan yang telah saya siapakan untuk orangtua dan adik saya. Pertama, undangan yang orangtua saya terima adalah undangan VIP (bukan tribun), dan itu membuat ibu dan adik saya tidak perlu mengantri untuk naik ke lantai 2 dan melihat saya dari jauh, karena posisi duduknya tidak jauh di belakang saya. Selanjutnya adalah nama saya dipanggil sebagai salah satu penerima penghargaan Bintang Aktivis Kampus Universitas Andalas, dan mendapatkan medali serta sertifikat dari BEM KM dan Wakil Rektor III Universitas Andalas, dan itu diserahkan secara langsung oleh Bapak Rektor pada saat Wisuda III berlangsung di Auditorium Universitas Andalas.

Bintang Aktivis Kampus

Kejutan terkahir yang bisa saya berikan kepada orangtua saya pada hari itu adalah pada saat acara wisuda di fakultas. Saya bilang ke Ibu dan Yuan, “Lihatlah papan-papan karangan bunga ucapan selamat itu, semuanya untuk ku, bu”.

Karangan Bunga Wisuda

Kejutan-kejutan tersebut merupakan bentuk penghargaan dan ucapan terimakasih saya kepada Ibu dan almarhum Bapak, serta adik saya tercinta atas kepercayaan yang telah diberikan kepada saya selama ini. Kepercayaan yang membuat anaknya ini bisa bertahan untuk terus melanjutkan amanah di organisasi, karena untuk memundurkan masa studi selama satu tahun itu tentu ada pengorbanan yang besar dibaliknya. Terimakasih banyak untuk rasa percayanya, dan alhamdulillah ada satu kalimat yang membuat saya lega di hari wisuda, “Terimakasih banyak untuk hari ini pi, ibu bangga”. Kalimat itu adalah kalimat terindah bagi saya sepanjang tahun 2014.

Graduation

Alhamdulillah di tahun 2014 saya telah resmi mendapatkan gelar Sarjana Farmasi (S.Farm) dan lulus dengan predikat “Sangat Memuaskan”.

Di 2014 banyak hal-hal baru yang saya lakukan, banyak tempat baru yang saya kunjungi, dan banyak orang-orang baru yang saya kenal. Di bulan Februari saya memutuskan untuk tinggal di Kampung Inggris Pare selama 1 bulan untuk merasakan sensasi yang selama ini telah saya dengar dari banyak orang. Fokus saya selama berada di Pare adalah untuk meningkatkan nilai TOEFL saya, namun sayang baru 1 minggu kelas berlangsung bencana erupsi gunung Kelud terjadi. Dan apalah dayanya saya sebagai makhluk sosial, rasa ingin membantu saya lebih tinggi dari rasa ingin belajar saya pada waktu itu, akhirnya saya tinggalkan kelas TOEFL saya selama 1 minggu untuk fokus menjadi relawan di posko kesehatan Masjid An-Nur Pare, Kediri. Selama berada di posko kesehatan saya bertemu dengan banyak relawan dari berbagai profesi dan daerah, saya juga bertemu dengan teman-teman mahasiswa farmasi yang siap membantu menjadi relawan di Pare dan Kediri, dan tentunya saya bertemu dengan teman-teman baru disini. Selama menjadi relawan juga membuat saya lebih empati, karena saya bisa merasakan secara langsung menjadi korban di daerah bencana, dan ini merupakan kali pertama saya mejadi korban sekaligus relawan pada bencana erupsi gunung berapi.

Kelas TOEFL saya lanjutkan di minggu terakhir (minggu ke-4) program, karena 1 minggu setelah menjadi relawan saya berangkat ke Jakarta untuk mewakili ISMAFARSI di Kongres XIX IAI, dan mengunjung beberapa LEM anggota ISMAFARSI di Solo dan Semarang. Lalu bagaimana dengan nilai TOEFL saya? Hehehe, syukurnya lebih dari 400 namun masih jauh dari target yang telah saya buat. Terus semangat untuk belajar TOEFL, ingat target jeph!

Pada bulan Maret saya balik ke rumah tercinta di Bangka, tujuannya hanya satu “kumpul dengan keluarga”. Sejujurnya selama kuliah saya jarang mendapatkan kesempatan untuk liburan dalam jangka waktu yang lama di rumah, makanya di kesempatan yang ada tersebut saya sengaja untuk balik ke Bangka dan menikmati hari-hari indah bersama keluarga. Selama di Bangka ternyata saya mendapatkan sebuah kesempatan untuk mengikuti seleksi Indonesian Youth Exchange Program Bangka Belitung Local Selection atau lebih akrab kita kenal dengan istilah PPAN (Pertukaran Pemuda Antar Negara). Pada seleksi perdana yang saya ikuti ini, saya memilih program SSEAYP (Ship for South East Asian-Japan Youth Program), dan berhasil hingga tahap final. Namun sayang, saya hanya menjadi peringkat ke-2 (cadangan) untuk program ini, bukan sebagai main candidate-nya. Cerita lengkap tentang seleksi PPAN Babel saya bisa dibaca disini.

Selama berada di rumah cukup banyak hal yang bisa saya kerjakan, salah satunya adalah perbaikan gizi hehehe… Berat badan saya naik sejadi-jadinya selama saya berada di rumah, dan syukurnya kembali berkurang ketika saya sibuk mengurus skripsi. Saya meninggalkan rumah pada akhir April dan kemudian bersiap untuk perang (skripsian) di bulan Mei, Juni, dan Juli, dan balik ke rumah kembali H-1 Idul Fitri 1435 H dengan gelar S.Farm yang belum resmi hehe (selesai kompre, tapi belum wisuda).

Selesai merayakan Idul Fitri saya memulai hari yang baru sebagai mahasiswa profesi Apoteker. Kelas dimulai pada awal Agustus dengan sepuluh mata kuliah yang kebanyakan lebih menjurus ke bidang farmasi klinis. Selama menjalani kuliah profesi saya juga mendapatkan banyak ilmu baru dan juga teman-teman baru. Menyenangkan? Ya, karena di kelas Apoteker angkatan III 2014 (kelas saya) banyak orang-orang pintar, cerdas, dan memiliki semangat belajar yang tinggi, namun banyak pula yang kurang rajin dan usahanya kurang maksimal, saya salah satunya hahaha. Alhamdulillah kelas selesai pada akhir bulan Desember dan akan dilanjutkan dengan praktek kerja profesi selama 6 bulan pertama di tahun 2015 ini. SEMANGAT!

Di tahun 2014 saya juga tetap menjadi seorang traveler super hemat sejati hehe. Gak percaya? Berikut trackrecord traveling saya selama tahun 2014:

Januari: Traveling hemat ke Sumatera Utara (Medan, Sipiso-piso, dan Danau Toba) dan Aceh (Sabang, Banda Aceh, dan Takengon) bersama teman sekost saya, Agel. Untuk tulisan mengenai keseruan saya selama traveling ini akan saya posting kemudian. Itinerary dan budget selama traveling bisa dilihat disini dan disini. Masih di bulan yang sama saya bertolak ke Malang. Ini merupakan kali pertama saya melihat keindahan Bromo dan juga menikmati keseruan di BNS (Batu Night Spectacular).

Januari

Februari: Sepeda-sepedaan dari Pare ke Kediri dan tentunya eksplor Pare menggunakan sepeda. Di bulan Februari juga saya ke Jakarta dan kembali ke Pare dengan mampir terlebih dahulu ke Solo dan Semarang. Karena sebelumnya sudah pernah ke Semarang, jadi tidak terlalu eksplor wisata Semarang. Sedangkan karena ini kali pertama ke Solo, jadi bener-bener eksplor Kota Solo, dari mulai makan nasi liwet hingga foto-foto di Keraton. Terimakasih teman-teman farmasi USB yang sudah menemani saya jalan-jalan keliling Solo. Kapan-kapan kita ke Tawangmangu ya hehehe.

Februari

Maret: Balik ke Bangka kemudian family traveling ke Belitong, TOP! Itinerary dan Budget selama family traveling ke Belitong bisa dilihat disini dan disini.

Maret

April: Jakarta, Bogor, dan Bandung.

Mei: Makan pempek di daerah Skanak, Palembang. Kemudian lanjut makan tekwan ke Jambi.

Juni: Pontianak dan Singkawang. Ternyata Singkawang itu memang kota kecil yang cantik, kata orang sana sih Hongkong-nya Indonesia, karena banyak Chinese kali ya. Dan masih di bulan yang sama saya ke Jogjakarta, menikmati kemegahan Candi Borobudur untuk kedua kalinya. Perjalanan di bulan Juni saya lanjutkan ke salah satu kota di Malaysia yang terkenal sebagai salah satu “World Heritage City by UNESCO”, Melaka. Cerita lengkap traveling saya ke Melaka bisa dibaca disini. Untuk itinerary dan rincian biaya perjalanannya bisa dilihat disini.

Juni

Juli: Balik ke Bangka untuk merayakan Idul Fitri 1435 H bersama keluarga, namun sebelumnya saya mampir terlebih dahulu ke kampung Bapak di Pagaralam, Sumatera Selatan. Lumayan, bisa menikmati aroma kesejukan alam gunung Dempo hehe.

Agustus: Family traveling ke Sumatera Utara. Ini merupakan rangkaian acara perayaan wisuda saya hehe. Terlebih dahulu kami pulang ke kampung Ibu di Batang Toru, Tapanuli Selatan. Setelah 2 hari disana, kami melanjutkan perjalanan ke Danau Toba, Brastagi, dan terkahir Medan.

Agustus

September: Baru di bulan ini nih saya nggak jalan-jalan huhuhu

Oktober: Mendadak Batam, yeay. Tulisannya akan segera saya buat.

Oktober

November: Jogjakarta lagi. Kali ini saya jalan-jalan ke Pantai Depok yang ada di Selatan Jogjakarta, pasirnya hitam, ombaknya besar, tapi seafood-nya bolehlah, enak hihihi. Selain itu di bulan ini saya juga menguji kemampuan fisik saya dengan mendaki gunung Talang, dan pemandangan dari puncaknya sungguh mempesona, WOW!

November

Desember: Jakarta.

Tapi di liburan natal dan tahun baru saya hanya hibernasi di kostan, duit udah gak ada lagi hahaha. Ini semua karena memperbaiki laptop saya yang rusak.

Salah satu hal yang membuat saya sedih di tahun 2014 ini adalah laptop saya yang rusak selama 4 bulan. Kerusakan laptop ini berdampak parah ke kuliah apoteker saya yang banyak tugas. Jadi selama kuliah apoteker ini saya harus berpintar-pintar dalam mengerjakan tugas kuliah, dan salah satu caranya adalah meminjam laptop teman se-kost pada malam hari ketika dia akan tidur, dan jadilah saya makhluk nokturnal dan sering terlambat masuk kelas karena urusan tugas dan laptop rusak ini. Tapi alhamdulillah 2 minggu yang lalu laptop saya sudah pulih kembali, LCD nya yang pecah sudah saya ganti dengan yang baru. PS: Semakin bagus merek laptopnya maka akan semakin sulit mencari sparepart-nya. Semakin sulit mencari sparepart-nya, maka akan semakin tinggi harganya. Btw, laptop saya Sony Vaio S Series 13”, dan saya tidak merekomendasikannya hahaha. Susah banget cari sparepart-nya bro…

Dan di bulan November 2014, saya diajak untuk bergabung dalam suatu komunitas bernama IYHPS (Indonesian Young Health Professional Society) yang merupakan organisasi baru untuk profesional-profesional muda di bidang kesehatan. Anggota IYHPS ini terdiri dari berbagai profesional dan calon profesional (mahasiswa profesi) diantaranya ada dokter, dokter gigi, apoteker, perawat, bidan, ahli gizi, dan ahli kesehatan masyarakat. Saya menerima ajakan tersebut dan ditempatkan di divisi Dana dan Usaha. Awalnya saya keberatan karena selama ini saya hanya tau meminta uang dari Staf Ahli Keuangan saya, namun setelah diyakinkan dan dijelaskan jobdesc-nya akhirnya saya menerima. IYHPS, semoga bisa menjadi ladang amal ibadah saya kedepannya ya. Amin… Oiya, untuk mengetahui informasi tentang IYHPS dan apa saja yang akan dan telah kami kerjakan bisa kunjungi websitenya disini, dan jangan lupa follow media sosialnya ya, terutama bagi kamu yang merasa professional muda, calon professional muda, dan mahasiswa rumpun ilmu kesehatan yang ada di Indonesia.

Begitulah kehidupan saya ditahun 2014 kemarin yang bisa dibilang seperti HYSTERIA. Kadang semangat saya naik, kadang turun, kadang saya harus memimpin, dan terkdang saya harus dipimpin, kadang jadwal saya padat merayap, dan kadang kala saya tidak memiliki agenda sama sekali, kadang saya traveling ketika musim kuliah, namun hanya di kostan ketika musim liburan hahaha. Intinya, 2014 saya begitu berwarna, dan terimakasih untuk semua orang yang telah mewarnainya. Sekarang saya siap berjalan di tahun 2015.

RESOLUSI 2015

Sebelum membuat resolusi tahun 2015 ini, terlebih dahulu saya ingin menjawab pertanyaan yang saya dapatkan dari tread kaskus berikut:

  1. Tanyakan pada diri anda sendiri, apa yang sesungguhnya menjadi kelemahan anda?
  • Emotional unstable.
  • Skala prioritas buruk.
  • Pengidap deadliners dan ngaret akut.
  • Sering gak konsisten a.k.a plin plan.
  • Boros.
  • Kurang pinter ngerawat barang.
  • Keras kepala.
  • Procrastinating (suka menunda-nunda pekerjaan).
  • Pemalas kronik.
  • Pembosan, antusias hanya di awal namun lama kelamaan semangat mengendur.
  • Egois.
  • Tidak bisa berteman dengan berbagai karakter orang (hanya karakter-karakter tertentu).
  1. Pilih satu kata yang menggambarakan tahun 2014!

HYSTERIA (bukan gangguan syaraf ya, tapi kayak wahana hysteria yang ada di Dufan hehehe)

  1. Pilih satu kata untuk menggambarkan tahun 2015!

BERSINAR

  1. Apa yang ingin ditemukan di tahun 2015?
  • Hidayah
  • Kebahagiaan bisa berkumpul bersama keluarga.
  • Pekerjaan yang bermanfaat untuk banyak orang.
  • Penghasilan yang cukup untuk memenuhi segala kebutuhan, dan sisanya bisa ditabung untuk mendapatkan keinginan.
  1. Apa yang ingin dihindari di tahun 2015?
  • Musyrik
  • Munafik
  • Ketidakberuntungan
  • Kemalasan kronik.
  • Procrastinating (suka menunda-nunda pekerjaan).
  • Membuang kesempatan.
  1. Apa penyesalan terbesar di tahun 2014?

Ibadah yang tidak maksimal dan salah satu mimpi tidak terwujud di tahun 2014, yaitu IPK S1.

  1. Jika bisa kembali ke tahun 2014, apa yang ingin diubah?
  • Ibadah yang berantakan.
  • Kesempatan-kesempatan yang terlewatkan tanpa adanya usaha.
  1. Siapa yang paling ingin dibahagiakan di tahun 2015?

Orangtua dan Adik

  1. Dari skala 1-10, seberapa ingin bahagia di tahun 2015?

8 (delapan)

  1. Dari skala 1-10, seberapa puas dengan hasil pekerjaan/belajar di tahun 2014?

5 (lima)

  1. Dari 1-10, seberapa ingin kamu bisa mengendalikan emosimu di tahun-tahun mendatang?

9 (sembilan)

  1. Dari skala 1-10 seberapa puas kamu akan hubunganmu dengan Tuhan di tahun 2014?

4 (empat)

Baiklah, dari 12 pertanyaan diatas, saya mencoba membuat resolusi saya di tahun 2015 ini. Semoga resolusi ini bukan hanya kontemplasi belaka, namun menjadi nyata dengan usaha maksimal, doa, tawakal, dan tentunya restu orang tua. Ini dia resolusi saya:

  1. Ibadah harus rapi, gak boleh berantakan lagi.
  • Shalat wajib gak boleh bolong, kalau bisa ditambah dengan shalat sunah rawatib, dan sekali-kali shalat dhuha dan tahajud.
  • Semoga masih bisa bertemu dengan bulan Ramadhan agar bisa puasa penuh satu bulan. Sekali-kali puasa senin kamis, dan puasa sunah lainnya.
  • Tadarus setiap hari (walau hanya satu ayat). Minimal khatam 2 kali dalam tahun ini.
  • Hafalan juz’ama nambah.
  • Jangan lupa sadaqah setiap hari Jumat.
  1. Kumpul bersama keluarga

Sudah lebih dari 5 tahun saya merantau ke kota orang untuk mencari ilmu, semoga tahun ini sudah bisa mengaplikasikan ilmu-ilmu yang didapat di kampung halaman. Lagipula, ibu memang meminta untuk beberapa tahun kedepan hidup di Bangka bersama keluarga. Jadi, cari kerja di Bangka, hidup rukun dan sejahtera bersama keluarga tercinta.

  1. Mendapatkan pekerjaan yang baik

Definisi pekerjaan yang baik disini adalah pekerjaan tetap yang bisa bermanfaat untuk banyak orang, tidak hanya untuk saya sendiri. Selain itu, penghasilan dari pekerjaan ini bisa untuk biaya hidup dan kebutuhan lainnya, jadi tidak minta ke orangtua lagi, dan kalau bisa (harus bisa) mulai menabung untuk masa depan hehehe.

  1. Ilmu kefarmasi yang semakin bertambah

Sebagai seorang calon apoteker saya sadar betul tentang pentingnya ilmu kefarmasian yang merupakan bekal di dunia kerja nanti, dan saya pun menyadari bahwa ilmu yang saya miliki sekarang masih teramat sangat kurang sekali. Maka dari itu di tahun 2015 ini saya bertekad untuk serius belajar, terutama pada kesempatan PKPA nanti yang mana merupakan metode belajar secara langsung di lapangan (aplikatif dan real).

  1. Berat badan ideal

Hahaha, ini serius. Saya sudah mulai bosan melihat tumpukan lemak yang ada di tubuh saya ini. Saya juga sudah mulai muak melihat timbangan yang bahkan pernah menunjukkan angka 92 di tahun ini, dan yang paling parahnya lagi adalah saya sudah mulai kesulitan menemukan ukuran celana dan kemeja yang pas (good looking) untuk saya kenakan. Overweight, bye…

  1. Blog semakin berkualitas
  • Setiap bulan harus posting tulisan.
  • Tampilannya makin keren dan rapi.
  • Ada project baru, target: Blog Radio.
  • Jumlah viewers mencapai 20.000.
  1. Sifat-sifat buruk saya pada jawaban pertanyaan nomor 1, minimal berkurang menjadi 50%-nya.
  1. Traveling ke suatu tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya.
  1. Koleksi buku menjadi lebih dari 200 buku.
  1. Baca minimal 1 buku perbulannya.
  1. Ikut kongres/pelatihan kepemudaan atau kesehatan di tingkat nasional.
  1. Nilai TOEFL lebih dari 500.
  1. Punya barang baru dari hasil keringat sendiri, entah itu HP, motor, atau barang-barang lainnya (tapi bukan yang kecil-kecilan heheh).

Sekian resolusi saya untuk tahun 2015 ini, sejujurnya saya tidak yakin bakal tercapai 100%, tetapi saya yakin saya mau berusaha untuk mencapainya, satu-persatu. Jadi nanti ketika review akhir tahun saya sudah mendapatkan coretan 99% dari resolusi saya ini, artinya TERCAPAI. Amin… Mungkin? “Nothing is impossible, the word itself says ‘I’m possible’!” – Audrey Hepburn

Mohon doanya…

Stop wishing, start doing. Bismillahirrahmannirrahim…

Best Regards,

Jefri

Mengapa Saya Harus nge-Blog?

Padang, 31 Desember 2014

Alhamdulillah masih diberikan nikmat sehat lahir batin hingga di hari terakhir tahun 2014 ini. Tadi pagi saya mendapatkan email dari WordPress.com yang isinya adalah Annual Report blog saya, dan mungkin semua yang punya akun blog WordPress juga mendapatkan hal yang sama. Saya sangat bersyukur hingga saat ini blog saya masih bisa keurus, yah walaupun tulisannya masih dikit sih, dan mungkin kualitas tulisannya juga belum sebagus bloger-bloger lain hehehe.

Annual Report Blog

Baiklah, di tulisan kali ini saya ingin menceritakan tentang “Mengapa Saya Harus nge-Blog?”. Tetapi sebelumnya saya ingin menceritakan tentang sejarah saya membuat blog ini. Sejujurnya ini bukanlah blog pertama saya, karena sebelumnya saya sudah pernah membuat blog dengan platform blogspot dan juga wordpress, namun sayang kedua blog itu bernasib sama (tidak terurus hingga saya lupa dengan password akunnya hehe). Kemudian di pertengahan tahun 2013 ada seorang teman yang mengusulkan kepada saya untuk menceritakan pengalaman-pengalaman saya selama ini dalam bentuk tertulis dan kemudian dishare di blog pribadi. Awalnya saya ragu, karena saya masih merasa kalau tulisan-tulisan saya belum layak untuk dibaca khalayak umum (red: kurang bagus). Namun beberapa bulan kemudian ketika saya lagi surfing di dunia maya hanya sekedar untuk mencari inspirasi, ternyata banyak sekali inispirasi yang saya temukan dari blog-blog pribadi orang lain. Kebanyakan tulisan-tulisan tersebut simpel namun bisa memberikan pencerahan bagi saya. Dan semenjak itulah saya memutuskan untuk nge-blog dengan tulisan alakadarnya hehe. Hal yang pertama kali saya kerjakan adalah membuat rancangan template blog saya (kontennya apa saja, bagaimana pengaturan kategorinya, dll), kemudian desain blog, dan terakhir adalah tulisan-tulisan yang akan diposting sebagai ‘soft opening’. Alhamdulillah blog saya resmi diluncurkan di dunia maya pada tanggal 13 Oktober 2013 dengan tulisan perdana “Pesan dari Brussel untuk Mahasiswa Farmasi Indonesia” yang menceritakan pengalaman saya bertemu dengan mbak Emma seorang alumni farmasi UI yang sedang bekerja di Pfizer Belgia.

Selama 3 bulan saya nge-blog ternyata banyak orang yang telah mengunjungi blog saya, dan komen-komenpun mulai bermunculan. Ternyata memang benar kata seorang teman saya, Fadhil, “Status di facebook dikomen orang itu udah biasa, yang luar biasa adalah ketika tulisan-tulisan kita di blog dikomen orang”, dan saya masih merasakan hal itu hingga detik ini. Itulah mengapa saya selalu membalas komen-komen orang yang ada diblog saya, karena itulah wujud rasa terimakasih saya kepada mereka yang telah menghargai tulisan-tulisan saya. Di usia blog saya yang baru 3 bulan tersebut, ternyata ada sebuah pesan yang masuk ke email saya, berikut pesannya:

blog 4Ketika membaca pesan tersebut ada rasa haru bercampur senang, karena pada saat itu rasanya saya menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, yah walaupun saya gak tau harus jawab apa pada saat itu, karena saya di Belgia hanya numpang traveling 1 hari aja pasca kongres di Belanda hehe. Beberapa hari kemudian, kalau gak salah masih dalam minggu yang sama, sebuah pesan di facebook datang dari seorang mahasiswi S2 Keperawatan UGM yang menanyakan tentang abstrak KTI saya yang bertemakan IPE (Interprofessional Education), berikut pesannya.

blog 5

Pesan-pesan diatas benar-benar membuat saya semakin bersemangat untuk menulis dan mengupdate blog saya ini. Saya kemudian mulai menulis pengalaman-pengalaman traveling saya di berbagai kota di Indonesia, berbagi tentang itinerary perjalanan dan budget yang saya keluarkan selama traveling di suatu tempat, hingga membuat tulisan-tulisan overview traveling seperti “Be a Muslim Traveler” dan lain-lain. Dan di tahun 2014 ini saya sudah mulai berani men-share link tulisan-tulisan yang ada di blog menjadi postingan-postingan saya di facebook. Alhamdulillah sejauh ini banyak respon positif dan apresiasi yang saya dapatkan.

blog 3blog 2blog 1Pesan-pesan di email dan komen diatas bagi saya merupakan apresiasi atas blog saya ini, dan juga tentunya masih banyak pesan dan komen lainnya, namun keterbatasan waktu membuat saya hanya men-screenshoot beberapa saja. Saya ucapkan terimakasih kepada teman-teman yang telah membaca, like, komen, dan mengirimkan pesan ke email saya lantaran membaca tulisan-tulisan yang ada di blog saya ini, hatur nuhun sanget ya.

Jadi “Mengapa Saya Harus nge-Blog?”, karena dengan nge-blog saya sadar bahwa tulisan-tulisan yang saya anggap kurang berarti mungkin bisa jadi sangat berarti bagi orang lain. Selain itu dengan nge-blog membiasakan saya untuk terus menulis. Nge-blog juga membuat saya selalu ingat dengan rangkaian perjalanan yang telah saya lalui dan kegiatan-kegiatan yang telah saya lakukan, karena semuanya masih terpampang rapi di blog saya dalam bentuk tulisan. Jadi kalau mau reunian sama masa lalu bisa baca kembali tulisan-tulisan yang ada di blog. Dan, nge-blog membuat saya ingin selalu berbagi pengalaman dan pengetahuan ke orang lain melalui tulisan-tulisan saya. Namun yang terpenting dari “Mengapa Saya Harus nge-Blog?” adalah seperti hadist berikut:

Rasulullah SAW bersabda:

خير الناس أنفعهم للناس

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni. Dishahihkan Al Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah).

Ya, saya ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, dan saya rasa blog ini adalah salah satu medianya.

Jadi untuk tahun depan dan tahun-tahun selanjutnya insyaAllah saya akan tetap nge-blog dan harus nge-blog. Kalau kamu gimana?